SINGKAWANG Appost. :Anggota DPRD Kalbar dapil Singkawang Awang Sofyan Razali mengatakan, polisi mestinya memanggil Walikota Singkawan Hasan Karman untuk menelusuri akar permasalah. Bukan malah sebaliknya menahan masyarakat yang melakukan aksi penolakan keberadaan Patung Naga. Jika persoalan ini tidak tuntas, kondisi Kota Singkawang akan terus tidak kondusif. Aksi-aksi serupa akan kembali terulang.“Sumber konflik masalah yang mesti polisi kejar, bukannya menahan masyarakat,” tegas Awang kepada Pontianak Post tadi malam. Menurut dia, persoalan yang timbul di Singkawang merupakan hal baru. Sebab sebelumnya Singkawang daerah paling aman. Selalu harmonis tata kehidupan masyarakatnya. Tetapi menjadi keruh karena kebijakan Patung Naga dan makalah Walikota Singkawang.
Awang mengatakan sebenarnya masyarakat Singkawang tidak anti naga. Tetapi kebijakan pembuatan naga yang cenderung tidak mengakomodir suara masyarakat. Hal itu yang menjadi masalah. Karena menimbulkan pro dan kontra ke tengah masyarakat. “Masyarakat Singkawang itu telah akrab dengan naga sejak lama. Tidak ada masalah dengan naga sebetulnya. Hanya soal letaknya. Maka pemimpin mesti mendengar dinamika masyarakat untuk mencari solusi. Bila tidak, motivasi pemimpin dipertanyakan. Sehinggas menimbulkan konflik,” kata Awang. Dia menilai gaya kepemimpinan Hasan Karman cenderung mengundang suasana tidak kondusif dan merusak keharmonisan di Singkawang. Selain masalah kebijakan patung naga, yang Awang turut sayangkan adalah makalah seminarnya.
“Sebagai Walikota harusnya berhati-hati mengeluarkan statmen. Konteksnya pemimpin itu mesti bijak. Sehingga apa yang diucapkan tidak menyebabkan ketersinggungan suatu kelompok etnis tertentu,” kata Awang. Karena itu, lanjutnya, pihak DPRD Singkawang mesti meminta Hasan Karman menjelaskan atas timbulnya masalah di Kota Tasbih itu. “Bila perlu buat Pansus,” katanya agar permasalahan tidak berlarut. Ia pun menyayangkan seolah yang berkonflik kini masyarakat dengan aparat yang berbenturan di lapangan. Sementara akar persoalan pemicu tidak disentuh. Lanjut Awang, bila komponen masyarakat di Singkawang tersinggung dengan isi makalah Hasan Karman wajar, sebab bagaimanapun antara Sambas dan Singkawang memiliki histories yang tidak bisa dilepaskan.
Begitu banyak permasalahan yang ada di kota Singkawang dan bukan rahasia umum lagi Singkawang adalah sebuah kota Pariwisata dan apakah semua itu akan terus menjadi kota Wisata dimana berbagai permasalahan belum terurus, seperti begitu banyak sampah, jalan yang berlubang, gunung yang dijual dan masih banyak lagi seperti kasus Pelabuhan telah menghabiskan milyaran rupiah dan sekarang hanya menjadi dongeng belaka dan realisasi sepertinya masih diawang-awang, belum lagi kasus yang sepertinya sengaja di bungkus, ada apa kotaku? Inikah citra kota yang dulu di juluki kota TASBIH? Belum lagi Izin mendirikan usaha Sarang Walet yang terletak di tengah-tengah kota? Ada apa semuanya….??
Inilah yang menjadikan putra bangsa menciptakan lagu yang berjudul Singkawang Di Awang-Awang. Simak aja lagunya yang dapat di download di SINI
Beberapa waktu lalu, aku pernah menulis betapa senangnya aku disaat cita-citaku untuk melanjutkan kuliah tercapai, walau itu mustahil bagiku, namun saat itu aku yakin bahwa aku bisa dan semua itu kutulis diblog ini, blog yang selalu mengerti akan diriku, beberapa waktu lalu aku menulis dengan sebuah judul “Akhirnya Te-Ka-Je Juga” dan sekarang akhir dari perjalanan itu, entah lulus atau tidak yang penting aku tetap optimis bisa melewati dimana saat-saat paling beharga yaitu mempresentasikan Sistem Informasi yang aku buat yang menghabiskan waktu 150 hari kerja, lebih dari 20 kali pulang pergi ke Singkawang untuk melakukan Tracking menggunakan GPS.
Mulai tanggal 15 nanti, giliran aku yang maju (gelombang dua, gelombang satu dimulai hari ini) untuk mempresentasikan software yang kuberi judul “Pencarian Fasilitas Kesehatan di Kota Singkawang dengan Sistem Informasi Geografis”.
Sedikit cerita mengapa aku sampai menggambil judul yang berbau SIG? itu semua di karenakan hampir 20 Judul yang aku ajukan semuanya di tolak, maksud hati hanya iseng menyelipkan 1 judul yang berbau SIG padahal sebelumnya aku tau, Sistem Informasi Geografis tidak pernah di ajarkan di dalam Kampus Polnep, hanya saja ada satu orang dosen yang pernah mengambil Skripsi tentang SIG? tapi aku gak kebagian bimbingan dengan beliau mungkin dikarenakan aku seorang Lelaki
karena bimbingan beliau hampir semuanya wanita dan semuanya cantik-cantik hehehe….
Tapi aku tetap aja nekat, mulai dari keinginan untuk kursus, namun tak kesampaian karena temanku si didit dan si gopal udah duluan, tapi aku tetap optimis aku harus bisa walau tanpa kursus seperti mereka, dan alhamdulilah Gopal tak bosan-bosan mengajariku step by step dalam implementasi yang saat ini menggunakan software MapInfo.
Sempat terasa jengkel waktu si didit akan tutup buku setelah dia menyelesaikan kursus, namun aku tetap berharap agar si Gopal mau berbagi bersama kami, dan Allhamdulilah sekarang aku mempunyai teman yang satu KBK, yaitu Gopal dan Fiancur, kami bertiga saling Tanya jawab, saling sharing ditambah lagi satu orang teman kami dari KBK yang berbeda yang selalu ikut kemana kami berjalan, yaitu giwo dia adalah seorang anak dari Group Sri Mulat yang selalu menghibur saat kami dalam kesumpekkan ![]()
Oke deh sekian dulu cerita-ceritanya, nanti setelah aku maju untuk SIDANG TA, kita sambung lagi ceritanya…. Makasih yang udah mau baca, makasih juga yang malas baca tulisan ini…
Judul: Hitam & Mencekam
Penulis: Abdul “Fadlie “ Al Ra’uf
Malam itu, hujan begitu deras selepas adzan isya berkumandang hujan tak kunjung reda, namun tekat yang begitu kuat untuk tiba di tanah kelahiran sudah tak terbendung lagi. Bertemankan jas hujan aku berdua bergegas turun ke jalan yang mulai menghitam, berteman dengan sang waktu, berjabat erat dengan sang malam kami lewati satu demi satu rerumputan yang menghiasi kota khatulistiwa itu, dingin terasa menusuk sampai ke tulang namun kami tak patah arang.
Jalanan yang seharusnya bersahabat, hari itu membuat kami cemas dan guyuran hujan semakin deras, pacuan kuda besi tidak lah begitu cepat karena terhalang oleh jarak pandang yang terbatas. Sesekali kuusap mukaku yang tertutup secarik kain, menghindar dari terpaan angin laksana badai dimalam pekat, perjalanan itu membuatku seperti raja jalanan yang sepi, hanya sesekali gerobak moderen melintas namun tekat itu terhenti di Pinyuh untuk menikmati secangkir kopi susu dan sebatang rokok. Sambil memikirkan strategi untuk melumpuhkan kejamnya malam itu, kuhisap Mild yang hampir habis, hisapan dalam dan dilanjutkan dengan hembusan asap putih tidak membuat pikiranku berhenti untuk memikir, dengan tekat yang kuat dari kami berdua untuk menaklukan jalanan yang gelap dan pekat dimulai.
Tak terasa jam 11.15 PM kami tiba di sebuah lorong yang menyeramkan, jalanan yang tepinya berbatuan dan tidak ada kehidupan disana, melainkan hutan belantara di sisi kiri dan kanan jalanan itu, kucoba tuk mengingat perkampungan itu namun semakin ku mencoba tuk mengingat, semakin hilang nama kota itu di ingatanku, tak lama kemudian aku menikmati dinginnya pantai diantara pohon cemara itu, namun kali ini tanpa menguras tenaga untuk membangkitkan memori yang ada di kepala aku teringat dengan suasana pasir panjang, yang masih hijau dan hembusan angin tak begitu dingin, walau suara hempasan ombak dipantai tak dapat kudengar, namun kucoba tuk menyatu dengan alam berharap agar suatu saat nanti alam dapat berbicara kepadaku dan mengisahkan tentang indahnya pantai itu.
Hujan mulai reda itu pertanda bahwa alam mulai mundur dari syaimbara ini, mereka mundur karena kalah ataupun mundur untuk merencanakan suatu hal atau entah lah biar sang waktu yang menjawab semua teka-teki tentang alam itu yang pasti kami telah menemukan bongkahan tanah yang awalnya tak bernentuk semakin kami mendekat bongkahan tanah itu menjadi terlihat cantik dan bongkahan tanah itu berbentuk GUCI, ternyata desa itu adalah Sakok sebuah desa kecil yang dihuni sebagian besar warga tionghua yang mendalami seni membuat guci, tapi malam itu hanya terlihat satu guci berukuran raksasa yang terpajang dipinggiran jalan terhimpit oleh warung remang-remang didepannya ramai para wanita berpenampilan sexy menatap kosong seakan mengutuk alam yang telah menghalangi mereka untuk menyambung hidup. Sepi tanpa seorangpun pria-pria penikmat sensasi hawa berada di situ, hanya 2 buah mobil avanza dan beberapa mobil yang tak kukenal.
Penaklukan itu hampir berakhir dan puncak kemenangan semakin dekat di pelupuk mata, namun dinginnya masih terasa dan tak berkurang dari semula, tubuh kami berkilauan karena basah, namun hati tetap gembira tatkala melihat gerbang selama datang di Kota Singkawang yang berakhir disebuah penginapan tepat pukul 12.AM lewat beberapa menit.
Tags: Gelap, Malam, Perjalanan, Hujan, Rintangan, Guci, Wanita, Rembulan88, Saliung, Singkawang, Pontianak




Apes ? itulah sebutan yang sekarang kualami, bagaimana tidak, pasca kecolongan laptop membuat aku harus mengganti laptop milik cewek yang dulu kuliah di akper, lagi pusing nyari laptop merek Acer Aspire 4315 terus pusing nyari duitnya.
Pinjam sana pinjam sini akhirnya terkumpul 3,5 jt, ketemu ama teman di singkawang yang sering jual laptop akhirnya dia menawarkan diri untuk bantuin aku, yah aku udah percaya benget ma tuh teman, jadi aku gak liat barangnya terus transfer uang hasil pinjaman ditambah lagi uang makan buat 5 hari jadi total 3,6 Jt.
Aku pikir bisa membawa hasil yang memuaskan ternyata, kali ini aku benar-benar kecewa, teman yang aku percaya tidak bisa memberikan barang yang berkwalitas, padahal janjinya akan memberikan barang bagus mulus, eh tau-tau barang rusak gak ada charger terus tanpa tas, gak tau itu barang dapat dari mana?
Kekecewaanku kali ini mengajariku untuk tetap selalu waspada kepada teman yang ingin membantu dikala kita kesulitan, jadi aku lanjutkan menghubunginya dan meminta uangku di kembalikan, karena aku yakin tanpa bantuan dia aku juga bisa dapatin sendiri laptopnya. Namun aku dihalangi untuk mengambil uang itu karena katanya uang itu udah di gunakan sama temannya? wah aku pikir gak mungkin karena dia tidak melepaskan uangnya jika barangnya belum diambil.
Seharusnya aku tidak memberikan uangnya sebelum aku melihat barangnya, jadi sekarang aku harus menanggung kerugian lagi di kasih barang yang mutunya dibawah dan harganya tambah naik, yah aku berdoa aja moga lain kali aku gak terlalu percaya sama teman untuk memberikan suatu pekerjaan dengan dalih membantu. Dan semoga dia diberi umur yang panjang dan di beri anak yang sholeh nantinya.


....karna.....hiks......
.....semoga di akhirat sana engkau menggelar konser duet bersama abangku Jacko......
.....seolah mengingatkanku kembali kepada masa kecilku, dan 1hal yang kita pelajari bahwa, kita harus bersyukur masih memiliki orang tua, betul? yeah!




, huihuuhihihiuhu

mengenang kepergianku *kayak pemakaman aje
Fiuh.....Lama sekali diriku tidak ngeblog, kangen ngetik dan menceritakan kehidupkanku, dan postingan kali ini gw juga akan nge-flashback yang lalu2.....
gw bener2 gak kuat untuk berbicara disini, lihat saja ini
(gmn tuh rasanya)haehehehehehe

, gw ingin berikan bonus buat readers2 semua! semoga bonus ini bisa menyejukkan dan menyegarkan hati anda yang membaca postingan ini
"Hari telah berlalu....dalam hidup ini
Mami Cevline S.issy M.aho..
perasaan gw uda gak enak banget disitu, tiba2 aja ada orang rame2 nyanyi “







*bukan berarti ini blog gak pentink lho



*bukan berarti ini blog gak pentink lho
*bukan berarti ini blog gak pentink lho
Natal kali ini dio ngerayain di gereja tercinta GKKB Singkawang, dan perayaan kali ini dio dapet tugas pelayanan sebagai pemain musik dan dancer, karna ini sesuai dengan talenta dan bakat yang kumiliki, daripada gw disuruh jaga parkir,hehehehehehe
Met tahun baru 2009(sekali lagi telat)